diskusi.tech (beta) Community

loading...
Cover image for Susunan dan Pengaturan Perangkat untuk Livestreaming

Susunan dan Pengaturan Perangkat untuk Livestreaming

rizafahmi profile image Riza Fahmi ・8 min read

Artikel ini merupakan ulasan terkini berbagai alat dan perangkat yang saya gunakan untuk sesi livestreaming yang saya lakukan beberapa kali dalam seminggu. Saya akan berbagi susunan dan pengaturan secara lebih mendetil.

Artikel ini bukanlah panduan bagaimana memulai livestreaming, namun lebih kepada bagaimana saya menjalankan sesi livestreaming. Dan pasti setiap orang akan memiliki cara yang berbeda-beda.

Artikel ini akan dipecah menjadi beberapa bagian:

  1. Perangkat Keras
  2. Desain Overlay di OBS
    1. OBS Scenes
    2. Beberapa Hal Lainnya
    3. Beberapa Pengaturan OBS
  3. Kesimpulan
  4. Referensi

Catatan: Saya menggunakan laptop dengan sistem operasi windows dan mungkin beberapa alat bantu tentu akan berbeda. Silakan cari alternatif untuk sistem operasi masing-masing.

Perangkat Keras

Sebagian besar perangkat yang saya gunakan berdasarkan perangkat yang terjangkau secara harga namun tetap memiliki performa yang baik, setidaknya dari hasil review.

  • ASUS TUF Gaming FX505 15.6“
  • Logitech Wired Mouse B100
  • Keyboard Lofree Retro Mechanical Keyboard
  • Taffware BM-8000 Condenser Microphone
  • Taffstudio NB-35 Arm Stand
  • Steinberg UR12 Audio Interface
  • Nemesis NYK A-90 Webcam
  • SXIYA 10.2“ Selfie Ring Light
  • Lumecube Conference Lighting for Remote Working
  • Joby GorillaPod 1K Kit
  • Alctron PF04 Dual Layer Nylon Pop Filter
  • Audio-Technica ATH-M20x Professional Monitor Headphone

Foto penampakan perangkat yang digunakan

Desain Overlay di OBS

Saya menggunakan Open Broadcasting Software untuk livestreaming ke Youtube. Ada beberapa alternatif lain namun saya lebih cocok dengan OBS ini dan sejauh ini tidak mengecewakan.

Sebagai alternatif bisa juga menggunakan Streamlabs OBS (SLOBS) yang kabarnya lebih ramah digunakan, namun lebih membutuhkan tenaga ekstra. Basisnya sama-sama OBS hanya saja SLOBS membangun user interface yang menarik diatas OBS dilengkapi dengan berbagai plugins dan juga widgets yang siap pakai.

Untuk desain overlay saya melakukannya sendiri dengan bantuan Figma.

OBS Scenes

Saya menggunakan 7 layar: Welcome, Chat, Main, Browser, Secret, BRB dan Bye. Wah ternyata banyak juga ya :) Kita akan bahas yang paling sering digunakan saja ya. Lagipula scene Secret dan BRB jarang digunakan. Mari langsung saja kita bahas saja deh.

Scene Welcome

Scene ini muncul diawal ketika sesi livestreaming akan dimulai. Dilengkapi juga dengan hitung mundur untuk memastikan streaming tidak putus atau dalam keadaan mati. Juga dilengkapi dengan musik latar biar tidak bosan menunggu.

Scene Welcome

Scene Chat

Scene ini saya gunakan untuk berinteraksi dan ajang diskusi dengan penonton dengan chat sebagai fokus utamanya. Kadangkala saya juga menggunakan scene ini sebagai scene transisi ketika butuh mempersiapkan atau mengatur layar. Untuk menampilkan chat di layar saya menggunakan servis dari restream.

Menariknya Chat dari restream ini memiliki aplikasi tersendiri sehingga saya tetap dapat memonitor chat meski sedang tidak melihat chat widget yang ada di layar. Dilengkapi pula dengan notifikasi sehingga cocok dengan pengaturan saya yang belum memiliki monitor ekstra.

Scene Chat

Berikut contoh ketika live.

Scene Chat ketika live

Main Scene

Scene utama ketika sedang sesi live coding dan biasanya sebagain besar sesi akan dihabiskan di scene ini. Fokus utama adalah code editor dilengkapi dengan tampilan web browser disebelah kanan. Tampilan web browser seringkali dibutuhkan karena seringnya saya membahas materi yang berhubungan dengan web.

Kemudian dibagian bawah saya tambahkan webcam dan chat widget agar tetap engage dengan penonton. Dan sesama penonton juga bisa saling diskusi.

Scene Utama

Mungkin sedikit berbeda dengan pengaturan teman-teman yang juga melakukan livestream. Saya tidak menampilkan seluruh desktop saya. Saya hanya menampilkan code editor dan web browser. Untuk hanya menapilkan window tertentu, di OBS bisa menggunakan “Window Capture” sebagai sumbernya.

Untuk code editor, saat ini saya menggunakan doom-emacs dengan keybinding vim. Lain waktu saya menggunakan vim dan tmux via terminal. Jika dibutuhkan saya menggunakan VS Code.

Chat widget menggunakan servis dari restream seperti yang sudah dijelaskan dibagian sebelumnya.

Kemudian ada pula alert ketika penonton melakukan donasi via Saweria yang menggunakan “Browser source” di OBS. Dilengkapi juga dengan running text yang juga dari Saweria dan juga menggunakan “Browser source”. Tidak lupa tampilan QR Code untuk donasi dalam format gambar (png).

Contoh tampilan alert

Dan untuk mengelola berbagai window dan ukurannya, saya menggunakan FancyZones yang ada di MS PowerToys. Alat bantu ini sangat membantu sekali jadi tidak perlu mengatur windows secara manual setiap kali livestreaming.

FancyZones

Scene Lainnya

Berikut tampilan layar Secret. Sebagian besar komponen sama saja dengan layar utama, dengan code editor ditutup untuk melakukan hal yang rahasia seperti memasukkan password, API key dan lain sebagainya.

Tampilan layar Secret

Kadangkala saya butuh mencari dan membuka web browser ketika tidak sedang dalam mode ngoding. Terkadang juga butuh melihat hasil halaman web yang sedang dikerjakan dengan mode yang lebih lebar, karena itu saya siapkan juga layar Browser. Komponen lainnya nyaris sama dengan layar utama minus code editor saja.

Tampilan layar Browser

Sedangkan ketika butuh hal lainnya yang mengharuskan berada diluar jangkauan webcam, saya menggunakan layar BRB atau be right back.

Tampilan layar BRB

Beberapa Hal Lainnya

Selain membuka code editor dan web browser, saya juga membuka beberapa aplikasi lain seperti web browser kedua untuk memonitor donasi, pencarian yang tidak perlu dilihat dan catatan lainnya. Terkadang saya juga membuka aplikasi pencatatan seperti notion.

Dan yang terpenting saya membuka aplikasi restream chat untuk memonitor chat, terutama pesan penting yang kadang butuh atensi seperti koneksi bermasalah, lupa mengganti layar dan setiap kali ada chat baru akan muncul notifikasi disebelah kanan bawah layar.

Saya juga membuka Window Projector (Preview) dari OBS untuk memastikan layar sudah sesuai dengan yang dilihat penonton. Hal ini dilakukan karena saya belum punya monitor ekstra untuk memonitor stream. Dan tidak lupa pula di “Always on Top” agar tidak tertimbun window lainnya.

Tampilan ketika live

Beberapa Pengaturan OBS

Berikut adalah pengaturan OBS yang saya gunakan sejauh ini.

Pengaturan Video

  • Base (Canvas) Resolution: 1280x720
  • Output (Scaled) Resolution: 1280x720
  • Downscale Filter: Lanczos (36 samples)
  • Common FPS Values: 29.97

Pengaturan Output

  • Encoder: NVIDIA NVENC H.264 (new)
  • Rescale Output: false
  • Rate Control: CBR
  • Bitrate: 2500 Kbps
  • Keyframe interval: 2
  • Preset: Max Quality
  • Profile: main

Untuk encoder, karena perangkat saya sudah dilengkapi dengan GPU NVIDIA, maka saya bisa mendelegasikan tugas encoder kepada GPU. Jika teman-teman menggunakan perangkat yang belum memiliki dedicated GPU, bisa memilih encoder x264. Artinya proses encoding akan ditangani oleh CPU.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa resolusinya hanya 720p? Kenapa ngga 1080p? Meskipun saya yakin laptop yang saya gunakan mampu menangani resolusi 1080p dan 60fps, namun koneksi internet saya belum mumpuni untuk menangani resolusi yang lebih tinggi.

Lagipula dengan menurunkan resolusi ke 720p dan 30fps saya yakin penonton akan mendapatkan pengalaman menonton yang lebih lancar karena akan mengurangi buffering dan sudah cukup besar untuk membaca kode yang ada di layar. Jika saya memaksakan resolusi yang lebih besar, penonton pun harus menghabiskan bandwidth yang lebih banyak pula.

Audio

Mari kita bahas tentang mikrofon terlebih dahulu. Beberapa waktu yang lalu pengaturan mikrofon saya cukup sederhana. Saya sempat menggunakan mikrofon yang dapat dikoneksikan dengan USB sehingga lebih mudah pengaturannya. Sebelum ini saya menggunakan Blue Yeti lalu Samson Q2u yang juga dapat disambungkan melalui USB. Kedua mikrofon ini bagus dan sangat saya rekomendasikan.

Masalah utama dari kedua mikrofon ini adalah sangat sensitif sehingga suara ’berisik’ disekitar masuk semua. Karena memang tipe mikrofonnya memang demikian. Menjadi agak masalah terutama saat rekaman podcast. Sedangkan untuk livestreaming sendiri bukanlah masalah yang berarti jika menggunakan mikrofon tipe ini.

Namun sekarang saya berhasil mendapatkan pengaturan mikrofon yang cocok buat saya. Mikrofon yang saat ini saya gunakan adalah Taffware BM-8000 yang tipenya condenser, berbeda dengan mikrofon sebelumnya yang tipenya dinamis. Mikrofon ini hanya menangkap suara dalam jarak dekat sehingga suara ’berisik’ disekitar dapat diminimalisir. Hanya saja tipe mikrofon ini menggunakan kabel XLR yang tidak bisa langsung dihubungkan ke perangkat komputer. Dibutuhkan satu perangkat tambahan yaitu audio interface atau soundcard external.

Kabel XLR

Saya menggunakan Steinberg UR12 sebagai audio interface. Mikrofon BM-8000 dihubungkan ke UR12 dan dari UR12 masuk ke perangkat komputer. Setelah dibandingkan pengaturan seperti ini dapat menghasilkan suara yang lebih bulet dan merdu sekaligus lebih senyap karena minimnya suara disekitar yang ditangkap oleh mikrofon.

Steinberg UR12

Alternatif lain sebenarnya tetap bisa menggunakan mikrofon Q2U karena juga memiliki koneksi XLR, namun suara yang dihasilkan rasanya kurang maksimal dibandingkan dengan mikrofon BM-8000.

Konektor XLR dan USB di Samson Q2U

Di OBS sendiri saya tidak menyalakan opsi Desktop Audio yang jika menggunakan sistem operasi macos belum tersedia. Opsi Desktop Audio ini dapat digunakan untuk menangkap semua suara yang dihasilkan atau yang bisa didengar di desktop kita, misalkan suara musik yang sedang saya dengarkan, suara mouse atau alert dan berbagai efek suara yang dihasilkan komputer.

Untuk memutar musik latar, saya menggunakan “VLC Video Source” di OBS. Meskipun yang diputar hanya audio. Syaratnya kita harus melakukan instalasi VLC di perangkat untuk dapat digunakan. Musik latar yang saya gunakan saya unduh terlebih dahulu sehingga dapat diputar secara offline dan tidak mengganggu bandwidth saat streaming. Tak lupa juga semua musik yang ingin dijadikan musik latar disimpan kedalam playlist via VLC terlebih dahulu.

Untuk musik latarnya sendiri harus yang bersifat copyright-free atau royalti-free. Seringkali saya comot dari situs OCRemix, tempat musik-musik bertema game yang di-remix dan bebas digunakan untuk streaming. Opsi berikutnya untuk musik latar adalah StreamBeats dan freemusicarchive.

Saya juga menggunakan perangkat lunak Voicemod untuk menambahkan gimmick. Format online baik itu webinar ataupun livestreaming sangat butuh gimmick agar menambah engagement penonton. Voicemod adalah sebuah alat untuk dapat mengubah suara kita menjadi berbagai karakter lain seperti zombie, badut, auto tune, dan banyak lagi. Voicemod juga saya gunakan sebagai soundboard untuk menambahkan efek suara tepuk tangan atau efek lainnya ketika terjadi sesuatu.

Kesimpulan

Semoga penjelasan diatas dapat membantu teman-teman yang tertarik melakukan sesi livestreaming. Saya coba menjelaskan sedetil mungkin mengenai pengaturan livestreaming saya dan apabila ada hal yang belum jelas silakan ditanyakan. Yang perlu digarisbawahi adalah pengaturan diatas sifatnya sangat subjektif yang didesain untuk dapat mengikuti alur kerja saya pribadi. Banyak lagi pengaturan berbeda yang bisa dilakukan.

Satu hal yang pasti, pengaturan saya pun masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak sisi yang dapat ditingkatkan. Yang paling kelihatan, saya butuh meja baru yang lebih luas. Butuh monitor tambahan juga agar lebih nyaman saat livestreaming.

Buat teman-teman yang ingin melakukan livestreaming, saran saya mulailah dengan alat yang ada. Sedikit demi sedikit ditambahkan sehingga mendapatkan pengaturan yang cocok. Saya sendiri mulai livestreaming hanya berbekal perangkat laptop, mikrofon dan webcam. Baru kemudian nyicil perangkat lain satu demi satu.

Terimakasih saya ucapkan buat para sponsor dan donatur yang dengan kontribusi mereka saya bisa memiliki alat untuk melakukan livestreaming. Terimakasih untuk DeepTech, Google Developers Experts (GDE) Program dan Build With Angga yang sudah menyumbangkan sebagian besar perangkat yang saya gunakan.

Referensi

Discussion

pic
Editor guide
Collapse
pyk profile image
Bayu Aldi Yansyah

Panduannya lengkap sekali pak, ini yang saya cari! 🙏

Terimakasih banyak sudah berbagi pak Riza 🙇‍♂️🙇‍♂️🙇‍♂️