diskusi.tech (beta) Community

loading...

Tanya Kodenol: DevOps

mimindeeptech profile image Mimin Deep Tech ・4 min read

Akhir-akhir ini banyak perusahaan yang membutuhkan tenaga DevOps Engineer. Karena DevOps terbukti dapat menghasilkan kinerja yang lebih tinggi, lebih efisien waktu dan mengalami kegagalan lebih sedikit, namun orang yang menggeluti bidang ini masih sedikit.

Buat kita yang sedang mempelajari DevOps, mungkin terbetik satu-dua pertanyaan mengenai bidang yang terbilang baru di dunia IT ini. Yuk simak sesi tanya jawab Tanya Kodenol membahas topik DevOps yang diselenggarakan pada tanggal 25 November 2021, bersama Arradi Nur Rizal, System Developer Lund University, Swedia.

Deep Tech Foundation (@deeptech_id)
Okk sudah waktunya buat Tanya #KodeNol. Mimin panggilkan mas @arradirizal untuk mulai Tanya Kodenol malam ini yaa. Buat kamu yang punya pertanyaan seputar DevOps, bisa langsung reply tweet ini. Jangan lupa sertakan hastahtag #KodeNol :)

Stephanus (@stephanusn)
Bagaimana membedakan ranahnya security, infra, devops, atau operation di organisasi yg lebih kaku? Contoh saya punya pipeline di jenkins dan http://drone.io yg ada sonarqube. Sonarqube itu yg manage devops/security/infra ?

A:
Tiap organisasi punya kultur tersendiri, saya sarankan untuk diskusi antar department. Sekedar contoh, tempat saya bekerja ada group / departemen yang masing2 mengurusi security, infrastructure, dev, ops, network. Jadi untuk devOps nya dipegang oleh masing2 Dev group. Cuma kami akan meminta Infra department untuk menyediakan server, dan kami akan meminta Network department untuk menyediakan IP, firewall, load balancer etc. Security department akan bertanggung jawab terhadap keamanan inbound traffic dan paket monitoring. sedangkan Source management di handle oleh ops. Dan masing2 DevTeam responsible utk CI/CD productnya masing2

Q:
Okay, masih berhubungan dgn pertanyaan pertama. Di company mas, bagaimana pembagian tugas untuk tools2 yg lintas divisi? Contoh service mesh itu bersinggungan dgn network team. Lalu chaos tools ada berkaitan dgn security. Dan tools lainnya.

A:
Chaos engineering masuknya ke testing. jadi balik lagi yg di test apalah productnya (Dev Team) atau networknya (network department). Jadi pembagian tugas berdasarkan diskusi lintas department. Yang pasti harus jelas ownershipnya.

Deni Sugiarto (@denisugiarto94)
Apa skill yang sangat diperlukan di DevOps bang?

A:
Jadi skill yang diperlukan bisa dibagi 3, yaitu soft skill, hard skill dan pengetahuan terhadap tools dan software yang ada untuk membantu pekerjaan.

Soft Skill

  1. Kemampuan untuk berkolaborasi dan berkomunikasi.
  2. Empati.
  3. Proaktif.
  4. Kemampuan berpikir sesuai dengan yang dibutuhkan oleh end-user.
  5. Kemampuan untuk beradaptasi dan fleksibel.
  6. Kemampuan untuk mengambil keputusan.

Hard skill

  1. Kemampuan coding dan scripting seperti di Bash, Python dan lainnya.
  2. Pemahaman terhadap Software dan Server Security.
  3. Pemahaman terhadap bagaimana network bekerja.
  4. Kemampuan untuk melakukan sistematik debugging dan testing.

Kemampuan teknikal dan pemahaman alat2 berikut

  1. Source Control / Version Control System seperti contohnya, Git, SVN
  2. Source Control Management seperti contohnya Bitbucket, Gitlab, github
  3. Continous Integration seperti contohnya Jenkins, Bamboo, VSTS
  4. Konsep Infrastructure as a code
  5. Infrastructure Automation seperti contohnya Puppet, Chef, Ansible
  6. Cloud seperti contohnya AWS, Azure, GoogleCloud, Openstack

Kemampuan teknikal dan pemahaman alat2 berikut termasuk konsepnya.

  1. Konsep Container seperti contohnya LXD, Docker
  2. Deployment Automation & Orchestration seperti contohnya Jenkins, VSTS
  3. Orchestration seperti contohnya Kubernetes, Mesos, Swarm

Intinya sebagai devOps, kita perlu tahu tujuan akhirnya apa kemudian baru mencari tools / software yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Jadi jangan tergantung terhadap tools atau sesuatu yang sedang hype.

Maww (@pawwtee)
Apakah ada kegunaan devops dalam pemecahan masalah di keseharian bang? Kalau startup bagaimana? Apakah startup yang core business nya bukan teknologi tetap perlu? Toolsnya banyak banget ya bang. Kira kira untuk mahasiswa seperti saya harus mulai dari mana? Terima kasih #KodeNol

A:
DevOps untuk keseharian memberikan manfaat sebagai berikut.
Jika diimplementasikan secara benar, dapat memudahkan dan mempercepat deployment kode dari development ke production.
Kemudian, jika infrastruktur dibuat secara benar, akan mempermudah untuk mencari tahu jika ada masalah yang dapat membuat kita lebih cepat untuk memperbaiki.
Lalu kita dapat membuat automatisasi yang memungkinkan sebuah sistem melakukan self-healing atau auto-scalling

Untuk perusahaan yg core bisnisnya bukan teknologi, saya rasa tetap diperlukan. Karena jika kita dapat mempercepat deployment, mempermudah pencarian masalah yang pada akhirnya mengurangi down time. Maka bisnis tersebut akan mendapatkan lebih banyak keuntungan. Apalagi jika proses2 tersebut dapat dilakukan secara automatis.

Untuk tools memang banyak. Saran saya dimulai dari yang dibutuhkan terlebih dahulu. Mungkin bisa mulai dari source control management dan dari Linux scripting (karena sudah standar di industri).

Semoga jawabannya dapat membantu ya. Dan memang di dunia DevOps banyak tools yang membuat bingung. Tapi jangan khawatir, tools tersebut ada untuk mempermudah pekerjaan. Jadi jika masalah / tujuan yang ada sekarang bisa dicapai tanpa tools2 tersebut, ya tidak perlu dipakai.

Triii (@iThreee)
Halo bang Rizal, maaf masih ngawang bentukan CI, CD itu seperti apa, boleh bantu jelaskan bang secara umum dr mulai createnya dan minimum dokumentasinya apa saja yg perlu di artefact? Terima kasih

A:
Yang perlu diingat CI/CD adalah konsep bukan tools. CI / CD adalah continuous integration dan continuous deployment. CI/CD adalah cara kita untuk melakukan improvement terhadap produk kita yang sudah go-live atau di production server yang sudah diakses oleh banyak orang.

Jadi tools yang dipakai bisa saja se simple menggunakan bash script dan cron job. tetapi memang jika memakai automation server/tools seperti jenkins, akan lebih mudah untuk tracking dan monitoring.

Artifact nya juga bisa hanya simple seperti tar ball source code nya. Jadi konsep CI/CD bisa dilakukan tanpa the latest tools. Malahan, CI/CD pun tidak perlu dilakukan atau dilakukan manual jika business requirement memungkinkan. contoh, website down 1 jam tidak masalah.

Q: Terakhir bang, menurut bang Rizal devops cocok kah diterapkan di perushaan governance, yang perlu banyak dokumentasi dan approval?

A: Sangat cocok, apalagi jika proses tersebut bisa otomatis. sehingga dari satu approval ke approval selanjutnya bisa kurang dari 1 menit. Di tempat kami, ada 3 approval sebelum 1 perubahan di-deploy ke production.

Q: Boleh share bang tahap approvalnya apa saja? Mungkin di uat, release sama apalagi yaa

A: internal approval, user approval, release manager approval

Nah itu tadi sesi tanya jawab bersama Arradi Nur Rizal, System Developer Lund University, Sweden. Masih ada yang mau ditanyain soal DevOps? Yuk kirim pertanyaanmu di kolom komentar!

Discussion

pic
Editor guide